Gelembung

Selasa, 13 Mei 2014

Bunga Tidur

Malam ini, menurutku bukan hal yang baru bagiku karena aku sudah dua kali memimpikan seseorang. Tapi aku tidak bisa ku sebutkan siapa saja yang ada di dalam mimpiku. Mimpi yang pertama.
Pada malam itu aku tertidur dengan nyenyak. Mimpi itu datang kepadaku, ketika di dalam mimpiku itu ada dia dan teman-temannya, yang menurutku aku punya konflik dengan temannya. Dalam mimpiku, aku kesel, sedih, marah, semuanya campur aduk di dalam perasaanku. Karena aku sudah menunggu dia sampai larut malam untuk pergi bersamanya. Ketika ku berjalan menelusuri mobil-mobil yang sedang berhenti karena lampu merah, aku memutuskan untuk balik kerumah dengan jalan kaki. Ketika di suatu tempat, dimana aku melihat dia dengan teman-temannya yang cewe semua.
“Hah? Sepertinya aku mengenalnya. Tapi siapa ya?” Kataku ketika melihat dari jauh.
Aku segera melihat lebih dekat siapa itu orang bersama teman-temannya. Aku terus berjalan perlahan-lahan hingga sampai aku melihat jelas yang aku kenal. Ternyata…
“Dia, dan teman-temannya. Kenapa dia gak hubungi aku? Kenapa dia mengingkari janjianya? Kenapa dia memilih dengan temannya dibandingkan aku?” Kataku aku merasa terpukul sekali melihat sikap dia saat itu. dia akrab sekali dengan salah satu temannya yang bernama Hani.   Hani itu adalah seseorang yang dulu aku mempunyai konflik dengannya. “Dia juga tau kalau Fanha adalah pacarku, kenapa dia begitu tega sekali terhadapku? Kenapa harus menusuk dari belakang?” Kataku sambil mengeluarkan air mata.
Tidak tahannya hatiku ini dengan semuanya yang aku lihat, kemudian aku langsung samperin Fanha bersama teman-temanya, agar aku bisa memastikan semuanya yang jelas.
“Fanha!! Kemana aja kamu? Aku menunggu sampai berjam-jam untuk pergi bersamamu, tapi apa? Kamu mengingkari semua janji mu, dan kamu malah mementingkan main bersama gengnya Hani ini? Ada hubungan apa kamu sama Hani? Aku kecewa sekali sama kamu!” Kataku sambil mengeluarkan amarah aku yang membeludak serta tangisanku yang begitu deras.
“Siapa ya kamu? Emang aku pernah janji kepada kamu ya? Satauku aku gak pernah punya pacar.” Katanya, dia sambil meninggalkan aku.
Aku begitu tepuruk di tempat itu, aku begitu menyesal dengan semua ini yang dia ucapkan. “Apakah dia cepat sekali lupanya? Apakah dia udah ilang ingatan? Padahal baru semalem dia sms aku untuk jalan hari ini. Ada apa dengan dia?” Kataku sambil menjatuhkan kakiku karena terlalu lemas dengan mendengarkan dan melihat tingkahnya dia. Aku terus menengis di pinggir jalan, dan sambil aku teriak dengan suara yang keras. “Kamu jahat Fanha!!!”
Teriakan dan tangisanku membuat orang yang ada di dalam kendaraan pada berhenti untuk melihat ke arahku. Kemudian aku terbangun, karena sudah waktunya untuk sholat subuh, dan nafasku seperti orang yang lari terlalu jauh.
“Alhamdulillah hanya mimpi, tapi kenapa aku terengah-engah ya nafasnya. Mungkin karena nangis kejer dalam mimpiku.” Kataku dalam hati.
***
Malam selanjutnya aku bermimpikan kembali pacarku dengan teman-temannya, mungkin masih lanjutan mimpiku yang sebelumnya. Tetapi di dalam mimpiku, aku kelihatan sangat akur bersama Hani itu, walaupun awalnya aku tidak suka dengan dia, semua itu berubah 180 derajat sikapku kepada dia bahkan aku sudah akrab sekali sebagai sahabat yang dekat sekali. Inilah mimpiku yang kedua.
Dalam mimpiku aku dan Fanha belum belikan. Magrib aku berada di rumahku, sehabis shalat magrib bersama keluargaku.
Tok..tok..tok..
Aku mendengar ada yang mengetuk pintu, dengan segera aku membukakan pintu. Ketika aku buka pintu, ternyata yang datang adalah Fanha dengan Hani, Imelda, dan Melodi.
“Kalian? Ada apa kerumahku?” Kataku dengan mengucapkan terbata-bata.
“Aku mau nginep di rumahmu sa, semalam saja.” Katanya Hani.
Kemudian ibuku menyuruh mereka masuk kedalam rumah. Ketika mereka masuk, aku langsung menarik Fanha ke ruang tengah. Dengan geramnya aku langsung melapaskan tanganku, dan tanganku tiba-tiba dengan gampangnya menamparnya.
“Mau apa kamu kesini lagi Fanha? Kita sudah tidak ada hubungan lagi, dan kenapa kamu menyuruh atau mengantarkan mereka kerumahku, apalagi mereka mau menginap disini. Kenapa? Apa maksudmu, kamu udah tidak mengenalku lagi kemarinkan dan dia yang sudah merusak hubungan kita! Aku gak ngerti maksudku semua ini.” Kataku sambil mengeluarkan amarahku dan tangisanku.
Aku membentak dia dan ucapanku gak disengaja lebih tinggi daripada dia, padahal gak sepantasnya suaraku seperti itu, dan suara ku juga terdengar mereka semua yang ada di rumahku. Sedangkan dia hanya terdiam dan menunduk ketika aku membentaknya, mungkin dia menyesal sudah melakukan kesalahan terhadap aku kemarin.
Kemudian aku meniggalkan dia dalam keadaan nangis, tiba-tiba Hani mendengar semua aku ucapkan dan dia menahanku untuk keluar dari rumah, kemudian aku memuluk dia seketika tanpa aku sadari. Dan Hani juga menangis dalam pelukan ku.
“Maaf, aku sudah membuat kamu kecewa terhadap Fanha dan apabila kamu tidak mengizinkan aku dan sahabatku untuk menginap di rumahmu aku lebih baik pulang ke kostan.” Katanya sambil tensendat-sendat mengucapkannya.
“I..ya.. kamu boleh nginep disini, karena gak baik untuk wanita pulang malam-malam” kataku sambil menstabilkan emosiku.
“Sebenarnya ada yang mau aku bicarakan berdua sa, tapi bisa gak kalau kita bicarakannya di kamar saja.” Katanya
Kemudian kita masuk ke kamar, dan mereka semua pada di ruang tamu sambil minum teh yang sudah disediakan oleh ibuku. Dan Fanha, tidak tau kemana, sehabis kami bertengkar dia, langsung pergi meninggalkan rumahku.
“Khansa, sebenarnya aku ingin bilang sama kamu, tentang kemarin. Aku dan dia gak ada hubungan spesial, hanya sebatas teman aja. Kemarin dia seperti itu karena dia benar-benar bingung kenapa dia bisa mengucapkan sperti itu dan meninggalkan semua yang ia janjiakan kepada kamu. Kemarin aku melihat dia udah seperti orang yang terhipnoptis sama seseorang, dan semua barangnya diambil oleh orang yang gak dia kenal Sa. Makanya kemarin dia ketemu aku di tempat itu, karena aku panggil dia dari sebrang jalan, dan aku melihat dia mengasihkan barang yang ia bawa begitu saja sama orang yang gak ia kenal Sa. Ketika kamu lihat aku dan dia ditempat itu padahal aku sedang menyadarkan kembali pikirannya semula, tetapi semuanya nihil sa. Makanya kamu datang tiba-tiba sa, dia tidak mengenali kamu sa. Mengertikan sa? Makanya aku datang kesini untuk menjelaskan semuanya yang terjadi kemarin sa, dan dia mengajurkan untuk aku menginap dirumah mu, untuk menjelaskan semuanya sa.” Kata Hani
“Ouh, ternyta begitu kejadian sebenarnya. Iya aku mulai mengerti Han, maafkan aku ya soal yang tadi aku marah kepada kamu Han, dan udah berburuk sangka terhadap kamu Han sama Fanha. Terus aku harus bagaimana han dengan dia? Apakah dia mau memaafkan aku dengan perbuatanku yang tadi han?” Kataku sambil menundukkan kepalaku.
“Besok aja Sa, kita temui dia ke rumahnya. Kamu tau kan rumahnya? Pasti dia juga mengerti kok keadaan kamu saat ini, dan dia juga bakal memaafkan seseorang yang begitu sayang sa.” Katanya.
Suasana begitu haru kami pelukan seketika dan aku menginginkan dia menjadi sahabatku. Kemudian Hani mau menjadi sahabatku sekarang dan begitu juga sahabat-sahabatnya dia, aku begitu senang dan terharu sekali malam itu, walaupun hatiku merasa kurang puas karena belum minta maaf terhadap Fanha.
Keesokan harinya
            Aku dan Hani datang kerumahnya Fanha, untuk meminta maaf tentang kemarin. Sesampai disana ia belum bangun juga, maka aku langsung naik ke kamarnya untuk membangunkannya.
“Sayang, bangun!!” Kataku sambil negetuk pintu kamarnya.
Dia belum juga bangun dari tidurnya, pintu kamarnya tidak dikunci langsung aku masuk ke kamarnya. Tiba-tiba dia sakit menggil badannya, aku kaget sekali. Lalu aku bangunkan dia dan mengambil sebaskom air dingin dan obat.
“Kamu, ngapain ke kamarku? Aku udah gak apa-apa kok, ini hanya meriang biasa aja.” Katanya.
“Aku kesini untuk minta maaf ay, tentang kemarin semua. Apaan ini meriang biasa, harus diobati!” Kataku secara tegas.
“Kenapa harus minta maaf? Aku yang salah bukan kamu kok.” Katanya.
“Ini salah aku, karena sudah membentak kamu kemarin dirumah, dan gak sepantasnya aku bicara seperti itu ay.” Kataku
“Iya gak apa-apa kok, kejadian yang kemarin ya untuk kemarin aja kita lupakan, hari ini rubah saja dengan kebahagiaan say.” Katanya sambil iya bangun dari tidurnya kemudian dia memelukku.
Tok..tok..tok..
Ada yang mengetuk pintu, ternyata ibuku membangunkan untuk sholat subuh. Ya ampun, hanya mimpi lagi toh, pagi itu aku merasa bahagia sekali. Rasanya nanti ketika di kampus aku ingin sekali bertemu dengan dia.


The And

Kamis, 19 Juli 2012

Ungkapan Hati Nisa

Add caption
Sungguh menyakitkan hati ini bila sudah berakhir,
Sungguh beratnya untuk melupakan kekasihnya dan tidak berkomunikasi lagi  dengannya,
Sungguh perihnya di dalam hatinya, Padahal  tidak sanggup menahan sakitnya yang dialaminya.
Padahal kita sudah berakhir.
Kenapa ketika dipikiranku terlintas tentang semua ini, mengapaku harus menangis,
Padahal ini semua kemauanku.
Tapi kenapa aku yang harus seperti ini, aku tidak bisa seperti ini terus selamanya. Aku harus bangkit dengan semua kejadian ini tentang saat-saat bersama dia, dan kenangan-kenangan bersama dia, sungguh menyedihkan bagiku saat ini.
Aku sifatnya sekalinya sakit ya sakit, sekalinya sedih ya sedih, sekalinya seneng, seneng banget, sekalinya gembira ya gembira.
Tetapi, mengapa kalau aku sakit dan sedih itu lama sekali untuk mengilang dariku, giliran aku senang dan gembira cepat sekali mengihalng dariku.
Sungguh Beratnya :(
Tapi, selama masih ada Allah Hatiku masih bisa di kasih petunjuk, agar aku tidak sedih dan sakit lagi :)