Malam ini,
menurutku bukan hal yang baru bagiku karena aku sudah dua kali memimpikan
seseorang. Tapi aku tidak bisa ku sebutkan siapa saja yang ada di dalam
mimpiku. Mimpi yang pertama.
Pada malam itu aku
tertidur dengan nyenyak. Mimpi itu datang kepadaku, ketika di dalam mimpiku itu
ada dia dan teman-temannya, yang menurutku aku punya konflik dengan temannya.
Dalam mimpiku, aku kesel, sedih, marah, semuanya campur aduk di dalam
perasaanku. Karena aku sudah menunggu dia sampai larut malam untuk pergi
bersamanya. Ketika ku berjalan menelusuri mobil-mobil yang sedang berhenti
karena lampu merah, aku memutuskan untuk balik kerumah dengan jalan kaki.
Ketika di suatu tempat, dimana aku melihat dia dengan teman-temannya yang cewe
semua.
“Hah? Sepertinya
aku mengenalnya. Tapi siapa ya?” Kataku ketika melihat dari jauh.
Aku segera melihat
lebih dekat siapa itu orang bersama teman-temannya. Aku terus berjalan
perlahan-lahan hingga sampai aku melihat jelas yang aku kenal. Ternyata…
“Dia, dan
teman-temannya. Kenapa dia gak hubungi aku? Kenapa dia mengingkari janjianya?
Kenapa dia memilih dengan temannya dibandingkan aku?” Kataku aku merasa
terpukul sekali melihat sikap dia saat itu. dia akrab sekali dengan salah satu
temannya yang bernama Hani. Hani itu adalah
seseorang yang dulu aku mempunyai konflik dengannya. “Dia juga tau kalau Fanha adalah
pacarku, kenapa dia begitu tega sekali terhadapku? Kenapa harus menusuk dari
belakang?” Kataku sambil mengeluarkan air mata.
Tidak tahannya
hatiku ini dengan semuanya yang aku lihat, kemudian aku langsung samperin Fanha
bersama teman-temanya, agar aku bisa memastikan semuanya yang jelas.
“Fanha!! Kemana
aja kamu? Aku menunggu sampai berjam-jam untuk pergi bersamamu, tapi apa? Kamu
mengingkari semua janji mu, dan kamu malah mementingkan main bersama gengnya
Hani ini? Ada hubungan apa kamu sama Hani? Aku kecewa sekali sama kamu!” Kataku
sambil mengeluarkan amarah aku yang membeludak serta tangisanku yang begitu
deras.
“Siapa ya kamu?
Emang aku pernah janji kepada kamu ya? Satauku aku gak pernah punya pacar.”
Katanya, dia sambil meninggalkan aku.
Aku begitu tepuruk
di tempat itu, aku begitu menyesal dengan semua ini yang dia ucapkan. “Apakah
dia cepat sekali lupanya? Apakah dia udah ilang ingatan? Padahal baru semalem dia
sms aku untuk jalan hari ini. Ada apa dengan dia?” Kataku sambil menjatuhkan
kakiku karena terlalu lemas dengan mendengarkan dan melihat tingkahnya dia. Aku
terus menengis di pinggir jalan, dan sambil aku teriak dengan suara yang keras.
“Kamu jahat Fanha!!!”
Teriakan dan
tangisanku membuat orang yang ada di dalam kendaraan pada berhenti untuk
melihat ke arahku. Kemudian aku terbangun, karena sudah waktunya untuk sholat
subuh, dan nafasku seperti orang yang lari terlalu jauh.
“Alhamdulillah
hanya mimpi, tapi kenapa aku terengah-engah ya nafasnya. Mungkin karena nangis
kejer dalam mimpiku.” Kataku dalam hati.
***
Malam
selanjutnya aku bermimpikan kembali pacarku dengan teman-temannya, mungkin
masih lanjutan mimpiku yang sebelumnya. Tetapi di dalam mimpiku, aku kelihatan
sangat akur bersama Hani itu, walaupun awalnya aku tidak suka dengan dia, semua
itu berubah 180 derajat sikapku kepada dia bahkan aku sudah akrab sekali
sebagai sahabat yang dekat sekali. Inilah mimpiku yang kedua.
Dalam mimpiku
aku dan Fanha belum belikan. Magrib aku berada di rumahku, sehabis shalat
magrib bersama keluargaku.
Tok..tok..tok..
Aku mendengar
ada yang mengetuk pintu, dengan segera aku membukakan pintu. Ketika aku buka
pintu, ternyata yang datang adalah Fanha dengan Hani, Imelda, dan Melodi.
“Kalian? Ada apa
kerumahku?” Kataku dengan mengucapkan terbata-bata.
“Aku mau nginep
di rumahmu sa, semalam saja.” Katanya Hani.
Kemudian ibuku
menyuruh mereka masuk kedalam rumah. Ketika mereka masuk, aku langsung menarik
Fanha ke ruang tengah. Dengan geramnya aku langsung melapaskan tanganku, dan
tanganku tiba-tiba dengan gampangnya menamparnya.
“Mau apa kamu
kesini lagi Fanha? Kita sudah tidak ada hubungan lagi, dan kenapa kamu menyuruh
atau mengantarkan mereka kerumahku, apalagi mereka mau menginap disini. Kenapa?
Apa maksudmu, kamu udah tidak mengenalku lagi kemarinkan dan dia yang sudah
merusak hubungan kita! Aku gak ngerti maksudku semua ini.” Kataku sambil
mengeluarkan amarahku dan tangisanku.
Aku membentak
dia dan ucapanku gak disengaja lebih tinggi daripada dia, padahal gak
sepantasnya suaraku seperti itu, dan suara ku juga terdengar mereka semua yang
ada di rumahku. Sedangkan dia hanya terdiam dan menunduk ketika aku
membentaknya, mungkin dia menyesal sudah melakukan kesalahan terhadap aku
kemarin.
Kemudian aku
meniggalkan dia dalam keadaan nangis, tiba-tiba Hani mendengar semua aku
ucapkan dan dia menahanku untuk keluar dari rumah, kemudian aku memuluk dia
seketika tanpa aku sadari. Dan Hani juga menangis dalam pelukan ku.
“Maaf, aku sudah
membuat kamu kecewa terhadap Fanha dan apabila kamu tidak mengizinkan aku dan
sahabatku untuk menginap di rumahmu aku lebih baik pulang ke kostan.” Katanya
sambil tensendat-sendat mengucapkannya.
“I..ya.. kamu
boleh nginep disini, karena gak baik untuk wanita pulang malam-malam” kataku
sambil menstabilkan emosiku.
“Sebenarnya ada
yang mau aku bicarakan berdua sa, tapi bisa gak kalau kita bicarakannya di
kamar saja.” Katanya
Kemudian kita
masuk ke kamar, dan mereka semua pada di ruang tamu sambil minum teh yang sudah
disediakan oleh ibuku. Dan Fanha, tidak tau kemana, sehabis kami bertengkar
dia, langsung pergi meninggalkan rumahku.
“Khansa,
sebenarnya aku ingin bilang sama kamu, tentang kemarin. Aku dan dia gak ada
hubungan spesial, hanya sebatas teman aja. Kemarin dia seperti itu karena dia
benar-benar bingung kenapa dia bisa mengucapkan sperti itu dan meninggalkan
semua yang ia janjiakan kepada kamu. Kemarin aku melihat dia udah seperti orang
yang terhipnoptis sama seseorang, dan semua barangnya diambil oleh orang yang
gak dia kenal Sa. Makanya kemarin dia ketemu aku di tempat itu, karena aku
panggil dia dari sebrang jalan, dan aku melihat dia mengasihkan barang yang ia
bawa begitu saja sama orang yang gak ia kenal Sa. Ketika kamu lihat aku dan dia
ditempat itu padahal aku sedang menyadarkan kembali pikirannya semula, tetapi
semuanya nihil sa. Makanya kamu datang tiba-tiba sa, dia tidak mengenali kamu
sa. Mengertikan sa? Makanya aku datang kesini untuk menjelaskan semuanya yang
terjadi kemarin sa, dan dia mengajurkan untuk aku menginap dirumah mu, untuk
menjelaskan semuanya sa.” Kata Hani
“Ouh, ternyta
begitu kejadian sebenarnya. Iya aku mulai mengerti Han, maafkan aku ya soal
yang tadi aku marah kepada kamu Han, dan udah berburuk sangka terhadap kamu Han
sama Fanha. Terus aku harus bagaimana han dengan dia? Apakah dia mau memaafkan
aku dengan perbuatanku yang tadi han?” Kataku sambil menundukkan kepalaku.
“Besok aja Sa,
kita temui dia ke rumahnya. Kamu tau kan rumahnya? Pasti dia juga mengerti kok
keadaan kamu saat ini, dan dia juga bakal memaafkan seseorang yang begitu
sayang sa.” Katanya.
Suasana
begitu haru kami pelukan seketika dan aku menginginkan dia menjadi sahabatku.
Kemudian Hani mau menjadi sahabatku sekarang dan begitu juga sahabat-sahabatnya
dia, aku begitu senang dan terharu sekali malam itu, walaupun hatiku merasa
kurang puas karena belum minta maaf terhadap Fanha.
Keesokan harinya
Aku dan Hani datang kerumahnya
Fanha, untuk meminta maaf tentang kemarin. Sesampai disana ia belum bangun juga,
maka aku langsung naik ke kamarnya untuk membangunkannya.
“Sayang,
bangun!!” Kataku sambil negetuk pintu kamarnya.
Dia
belum juga bangun dari tidurnya, pintu kamarnya tidak dikunci langsung aku
masuk ke kamarnya. Tiba-tiba dia sakit menggil badannya, aku kaget sekali. Lalu
aku bangunkan dia dan mengambil sebaskom air dingin dan obat.
“Kamu,
ngapain ke kamarku? Aku udah gak apa-apa kok, ini hanya meriang biasa aja.”
Katanya.
“Aku
kesini untuk minta maaf ay, tentang kemarin semua. Apaan ini meriang biasa,
harus diobati!” Kataku secara tegas.
“Kenapa
harus minta maaf? Aku yang salah bukan kamu kok.” Katanya.
“Ini
salah aku, karena sudah membentak kamu kemarin dirumah, dan gak sepantasnya aku
bicara seperti itu ay.” Kataku
“Iya
gak apa-apa kok, kejadian yang kemarin ya untuk kemarin aja kita lupakan, hari
ini rubah saja dengan kebahagiaan say.” Katanya sambil iya bangun dari tidurnya
kemudian dia memelukku.
Tok..tok..tok..
Ada
yang mengetuk pintu, ternyata ibuku membangunkan untuk sholat subuh. Ya ampun,
hanya mimpi lagi toh, pagi itu aku merasa bahagia sekali. Rasanya nanti ketika
di kampus aku ingin sekali bertemu dengan dia.
The And