Gelembung

Sabtu, 04 Februari 2012

Imam Nasa'i

A.  Biografi Imam Nasa’i

Nama lengkapnya Ahmad bin Syu’iab bin Ali bin Bahr bin Sinan an-Nasa’i. Nama panggilan beliau Abu Abdul Rahman an-Nasa’i, yang lebih terkenal dengan nama an-Nasa’i. Beliau dilahirkan pada tahun 215 H/830 M abad ke-3, di daerah nasa’. Nasa’ adalah sebuah kota yang terkenal di Khurusan, Persia dan Sarkhas (Iran).
Beliau adalah figur muhaddits yang tangguh, kuat, kaya hafalannya. Beliau bergelar al-hafidz , ia imam besar pada masanya dan rujukan dalam ilmu jarh (kritik) dan ta’dil (legitimasi) para periwayat hadits.
Di negeri kelahirannya, beliau mengahafal Al-Qur’an dan mempelajari ilmu-ilmu dasar islam. setelah meningkat remaja ia senang mengembara untuk mendapatkan hadits. Berusia 15 tahun ia mengunjungi ke Qutaibah bin Sa’id pada tahun 230 hijriah, selama 14 bulan ia belajar di bawah asuhannya.
Beliau berkeliling kenegri-negri Islam, baik di timur maupun di barat, sehingga beliau dapat mendengar dari banyak orang yang mendengar hadits dari para hafizh dan syaikh. Di antara negri yang beliau kunjungi adalah sebagai berikut; Khurusan (Iran), Iraq, Baghdad, Kufah, Basrah, Syam, Perbatasan; yaitu perbatasan wilayah negeri islam dengan kekuasaan Ramawi, Hijaz, Mesir.
Nasa’i merasa cocok tinggal di Mesir. Karenanya ia kemudian menetap di negeri itu di jalan Qanadil,  setahun menjelang wafatnya. Kemudian ia berpindah ke Damsyik. Di tempatnya yg baru ini ia mengalami suatu peristiwa tragis yg menyebabkan ia menjadi syahid. Alkisah ia dimintai pendapat tentang keutamaan Mu’awiyyah r.a. Tindakan ini seakan-akan mereka minta kepada Nasa’i agar menulis sebuah buku tentang keutamaan Mu’awiyyah sebagaimana ia telah menulis mengenai keutamaan Ali r.a. Oleh karena itu ia menjawab kepada penanya tersebut dengan “Tidakkah Engkau merasa puas dgn adanya kesamaan derajat sehingga Engkau merasa perlu untuk mengutamakannya?” Mendapat jawaban seperti ini mereka naik pitam lalu memukulinya sampai-sampai buah kemaluannya pun dipukul dan menginjak-injaknya yg kemudian menyeretnya keluar dari masjid sehingga ia nyaris menemui kematiannya.
Tentang tempat meninggal beliau. Al-Daruqutni mengatakan, beliau di Makkah dan dikebumikan diantara Shafa dan Marwah. Pendapat yang senada dikemukakan oleh Abdullah bin Mandah dari Hamzah al-’Uqbi al-Mishri. Sementara ulama yang lain, seperti Imam al-Dzahabi, menolak pendapat tersebut. Ia mengatakan, Imam al-Nasa’i meninggal di Ramlah, suatu daerah di Palestina. Pendapat ini didukung oleh Ibn Yunus, Abu Ja’far al-Thahawi (murid al-Nasa’i) dan Abu Bakar al-Naqatah. Menurut pandangan terakhir ini, Imam al-Nasa’i meninggal pada tahun 303 H dan dikebumikan di Bait al-Maqdis, Palestina.
Sifat-sifatnya Ia bermuka tampan. Warna kulitnya kemerah-merahan dan ia senang mengenakan pakaian garis-garis buatan Yaman. Ia adl seorang yang banyak melakukan ibadah baik di waktu malam atau siang hari dan selalu beribadah haji dan berjihad. Ia sering ikut bertempur bersama-sama dengan gubernur Mesir. Mereka mengakui kesatriaan dan keberaniannya serta sikap konsistensinya yang berpegang teguh pada sunnah dalam menangani masalah penebusan kaum Muslimin yg tetangkap lawan. Ia tetap menyempatkan diri untuk mengajarkan hadits Nabi saw., kepada gubernur dan para perajurit.



B.  Peranan dalam Hadits

1.   Guru-guru beliau di dalam kitab sunannya adalah :
Qutaibah bin Sa’id, Ishaq bin Ibrahim, Hisyam bin ‘Ammar, Suwaid bin Nashr, Ahmad bin ‘Abdah Adl Dabbi, Abu Thahir bin as Sarh, Yusuf bin ‘Isa Az Zuhri, Ishaq bin Rahawaih, Al Harits bin Miskin,  Ali bin Kasyram, Imam Abu Dawud , Imam Abu Isa at Tirmidzi.
2.   Murid-murid yang mendengarkan majlis beliau dan pelajaran hadits beliau adalah;
Abu al Qasim al Thabarani (pengarang tiga buku kitab Mu`jam), Ahmad bin Muhammad bin Isma’il An Nahhas an Nahwi, Hamzah bin Muhammad Al Kinani, Muhammad bin Ahmad bin Al Haddad asy Syafi’I, Al Hasan bin Rasyiq, Muhmmad bin Abdullah bin Hayuyah An Naisaburi, Abu Ja’far al Thahawi, Al Hasan bin al Khadir Al Asyuti, Muhammad bin Muawiyah bin al Ahmar al Andalusi, Abu Basyar ad Dulabi, Abu Bakr Ahmad bin Muhammad as Sunni.
3.    Imam Nasa`i mempunyai beberapa hasil karya, diantaranya adalah;
As Sunan Ash Shughra, As Sunan Al Kubra, Al Kuna, Khasha`isu ‘Ali, ‘Amalu Al Yaum wa Al Lailah, At Tafsir, Adl Dlu’afa wa al Matrukin, Tasmiyatu Fuqaha`i Al Amshar, Tasmiyatu man lam yarwi ‘anhu ghaira rajulin wahid, Dzikru man haddatsa ‘anhu Ibnu Abi Arubah, Musnad ‘Ali bin Abi Thalib, Musnad Hadits Malik, Asma`u ar ruwah wa at tamyiz bainahum, Al Ikhwah, Al Ighrab, Musnad Manshur bin Zadzan, Al Jarhu wa ta’dil
4.   Mengklasifikasi isi kitab Sunan Nasa’i :
§    Dari kitab pertama sampai kitab ke dua puluh satu adalah tentang thaharah dan shalat. Namun beliau lebih memperbanyak masalah shalat.
§    Beliau mengedepankan kitab shaum dari kitab zakat.
§    Beliau memberi jarak antara pembahasan “pembagian rampasan perang” dengan “jihad”.
§    Beliau juga memisahkan antara pembahasan al khail dengan jihad.
§     Imam nasai membuat kitab khusus tentang wakaf (ahbas), juga kitab wasiat dengan tersendiri, pula kitab an nihl (pemberian untuk anak), kitab hibah, tanpa ada kitab faraidh (pembagian waris).
§    Beliau memisah antar kitab asyribah dengan kitabshaid dan dzabaih. Juga beliau memisahkan kitab-kitab tadi dengan kitab dhahaya
§    Beliau mengakhirkan kitab iman.
§    Kitab iman dengan kitab isti’adzah sajalah yang tidak membahas tentang hukum.

C.  Contoh Hadits yang Diriwayatkan

ابْنُ الْحَارِثِ عَنْ بُكَيْرٍ أَنَّ أَبَا السَّائِبِ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَغْتَسِلْ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ وَهُوَ جُنُب (رواه النسائى)
Ibnu Al Harits dari Bukair bahwa Abu Sa'ib berkata kepadanya, dia telah mendengar Abu Hurairah berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah salah seorang dari kalian mandi junub pada air yang tergenang (tidak mengalir)." (H.R Nasa’i)

ابْنُ شِهَابٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ الْغَائِطَ فَلَا يَسْتَقْبِلْ الْقِبْلَةَ وَلَكِنْ لِيُشَرِّقْ أَوْ لِيُغَرِّب (رواه النسائى)
Ibnu Syihab dari Atha bin Yazid dari Abu Ayub Al Anshari dia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bila salah seorang dari kalian ingin buang air besar, jangan menghadap kiblat, tetapi menghadaplah ke timur atau barat." (H.R Nasa’i).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar